Minggu, 09 Februari 2014

Memilih atau tidak ada pilihan lain!



“PEMILU nanti sudah tau mau milih siapa bik?”
Kata ku iseng membuka percakapan dengan bik jamu, seorang wanita paruh baya yang sering ku jumpai di Bus  .
“O…Pemilu tanggal berapa aja bibik gak tau nak!”
Aku menyimpul senyum mendengar jawabannya , benar sekali publikasi tentang Pemilu itu sendiri memang terlihat kurang  dari pemerintah, sosialisasi pemilu belum muncul di TV atau di instansi pemerintah daerah tertentu. Hanya baleho baleho dan poster poster caleg lah yang bermunculan dijalanan. Namun bisa dihitung berapa spaduk iklan PEMILU dijalanan.
“InsyaALLAH pemilu nanti di adakan tanggal
Kataku, menjawab kebingungannya.
“kira-kira mau pilih caleg yang mana bik?”tanya ku lagi.
“yooo. Mbok males milih nya, capek capek in yang dipilih yo kesenangan , dia yang enak, dia yang dapat uang, yang miskin yo tetep miskin, ya kan?”
Dalam hati sedikit mengiyakan. “Tapi tidak semua seperti itu bik” kata ku menimpali.
###
Survey yang kami peroleh
Tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu 1999 mencapai 93,33%, Pemilu 2004 turun menjadi 84,9%, dan Pemilu 2009 turun lagi menjadi 70,99%. Pemilu 2014, diprediksi hanya tinggal 54%, namun prediksi optimis Lingkaran Survei Indonesia (LSI) masih pada angka 60%. Di pihak lain, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menargetkan tingkat partisipasi pemilih 75% sesuai target pembangunan. Dari sekitar 236 juta penduduk Indonesia, kemungkinan calon pemilih Pemilu 2014 adalah 191 juta orang.

Angka golput juga terus meningkat. Pemilu 1999 angka golput 10,21%, Pemilu 2004 naik menjadi 23,34%, dan Pemilu 2009 naik lagi menjadi 29,01%. Bandingkan dengan angka golput pada pemilu era Orde Lama dan Orde Baru (1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997) yang tak pernah lebih dari 10%. - See more at: http://indonesia-web.blogspot.com/2013/08/rakyat-tak-percaya-elite-politik-2014.html#sthash.UPi4LzNk.dpuf

Demikianlah faktanya, masyarakat sudah tidak mempercayai lagi parai-partai politik yang ada di Indonesia, bersebab semua yang ditampilkan di TV saling menunjukkan keburukan partai yang satu terhadap partai yang lain. Belum lagi pemerintah yang sekarang sudah tidak lagi menggebu- gebu memikirkan kesejateraan rakyat, lihat saja fenomena yang terjadi semua bahan bahan makanan naik membuat rakyat semakin menderita. Contohnya saja menjelang idul fitri, daging sapi sampai 150 ribu per Kg, cabai sampai 100ribu per Kg naik hingga 100%. Entah kemana bantuan bantuan yang dulu di gembor gemborkan di awal masa pasca pemilu 4 tahun yang lalu. Lantas ini membuat rakyat kecewa dan mungkin muak dengan janji manis pemerintah. Ini yang mungkin menjadi alasan rakyat Indonesia memilih golput.
Aleg mementingkan kantong pribadi dan lupa akan pendukungnya dulu. Ini juga masih terkait dengan janji manis yang membusuk. Tidak itu saja, perilaku para anggota DPR juga mengecewakan, misalnya bermewah-mewah di tengah kemiskinan rakyat. Kekecewaan itu akan terakumulasi dan rakyat menemukan momentum pembalasan pada Pemilu 2014. Angka golput akan meningkat.

Belum lagi disetiap media partai yang satu menuding partai yang lain. Saling menjatuhkan , tapi hanya ada satu partai yang di olok-olok tapi tetap tersenyum , bersabar dan terus berjalan apa adanya. Sedang yang lainnya sibuk mencari-cari kesalahannya tanpa disadari mereka telah membangunkan macan yang sedang tidur, na’asnya aib mereka pula lah yang terbuka satu per satu.  Ini juga membuat rakyat malas memilih. Di mata mereka semua partai sama buruknya untuk apa dipilh?.
Dan ketidak terbukaan pihak KPU dalam mendata rakyat, bahkan isu KTP E yang tidak keluar dibeberapa tempat dan dibeberapa personal juga bagian dari tekhnis pihak yang akan melakukan tindakan tidak fair di pemilu nanti.
Dan yang terakhir kurangnya himbauan dari pemerintah tentang pentingnya memilih wakil rakyat. Walaupun kembali lagi masyarakat sudah terlanjur kecewa dan tidak percaya, inilah ulah para pembusuk pembusuk politik.

Namun demikian tidak selayaknya kita sebagai masyarakat Indonesia membiarkan politik berjalan amburadur akibat keapatisan kita dengan tidak memberikan suara pada Pemilu. Apresiasi kita sangat dibutuhkan untuk perubahan yang nyata di Negara ini. Mungkin saja kita kecewa namun tak lantas menjadikan kita bodoh dan membiarkan Negara ini di obok obok oleh Negara lain. Tidak melakukan pilihan artinya kita pasrah dengan keburukan-keburukan yang akan terjadi. Untuk itu kami menghimbau agar rakyat ikut serta dalam mobilitas pemilu 2014. Sebab inilah kewajiban kita sebgai rakyat Indonesia yang peduli dengan perubahan bangsanya. Jangan biarkan Negara ini kecewa atas tindakan bangsanya.  pentingnya partisipasi politik seluruh elemen bangsa, baik secara personal maupun kolektif, untuk menentukan masa depan bangsa.
Yang terakhir ,partisipasi aktif bisa dibuktikan dengan memanfaatkan hak pilih dalam Pileg maupun Pilpres dengan sebaik-baiknya seraya mengapresiasi perbedaan pilihan politik setiap warga. Golput bukanlah pilihan melainkan pengabaian terhadap tanggung jawab politik atas nasib bangsa dan sikap apatis terhadap upaya pembaharuan.

Rabu, 04 Desember 2013

Heryawan: Paradigma Bad News Is Good News Telah Usang

PANGANDARAN - Menghadiri Pelantikan Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Ciamis periode 2013-2016 di Kabupaten Pangandaran, Selasa, 3 Desember 2013, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan memaparkan sejumlah hal seputar dunia pers.
Pelantikan tersebut dirangkaikan dengan sarasan kerjasama pembangunan Ciamis, Banjar, dan Pangandaran. Kedua acara dihadiri Ketua PWI Jawa Barat Mirza Zulhadi dan tak kurang 50 wartawan media cetak, elektronik, dan online.

Sarasehan dan pelantikan juga diikuti bupati dan walikota, para pejabat, serta tokoh masyarakat ketiga daerah tersebut. Selain Gubernur Jawa Barat yang tampil sebagai narasumber, sarasehan menghadirkan kalangan akademisi. 

Sehubungan pelantikan pengurus baru PWI Ciamis, Gubernur Heryawan menegaskan, peran penting pers di era demokrasi. Dikatakan, peran negara kini dan ke depan tidak sedominan dibanding era lalu. Sementara peran masyarakat sipil, termasuk pers di dalamnya, semakin menentukan.

Kekuatan media massa, ulas Heryawan, terletak pada kemampuannya membentuk persepsi publik. Sebagian besar persepsi publik terhadap suatu hal bahkan dibangun oleh pers. 

"Civil society kini benar-benar menjadi penentu arah kemajuan bangsa," tandas Gubernur yang juga kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.  

Namun, dirinya mengingatkan usangnya satu paradigma yang dianut insan pers selama ini. Yakni, katanya, paradigma "bad news is good news" atau berita buruk adalah berita bagus. Paradigma inilah yang memandu awak media dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.

Karena paradigma inilah, menurut Heryawan lagi, sebagian media massa lebih mengedepankan berita kekerasan, pembunuhan sadis, perkosaan, intrik politik, eksploitasi seks, dan peristiwa sejenisnya. Padahal "bad news" ini bermuatan energi negatif.

"Masyarakat itu kalau disuguhkan 'bad news' secara terus menerus, akan rusak pikirannya. Berita buruk merusak prestasi masyarakat. Ingat, bangunan persepsi kita sebagian besar dibentuk oleh media," papar Gubernur lagi ketika diminta penjelasan detailnya oleh wartawan, usai sarasehan dan pelantikan pengurus PWI Ciamis.

Gubernur Heryawan menyatakan, masyarakat kini membutuhkan penerapan paradigma baru: "good news is good news" (berita baik adalah berita bagus). "Kan ada keharmonisan ketika "good news" menjadi berita bagus, dan "bad news" sebagai berita jelek.

Menurutnya, media massa yang terus memakai paradigma lama --cepat atau lambat-- akan ditinggalkan publik. Tak sedikit media dimaksud, tambahnya, bahkan telah bangkrut.

"Saya yakin, media yang maju ke depan adalah yang condong menyajikan "good news" ketimbang berita buruk," tandasnya.
sumber:pks.or.id

"Jangan Diam Menghadapi Provokator Kemunkaran" by @abdullahhaidir1

"اللهم إني أعوذ بك من جلد الفاجر وعجز الثقة"

Doa Umar bin Khatab: Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari militansi pengusung maksiat dan kelemahan orang-orang baik....

Dalam pandangan Umar bin Khatab, lemahnya orang2 baik, sama bahayanya dengan militansi orang2 fasik....

Kesalehan individu saja tidak cukup, tapi dia harus diiringi kekuatan untuk melindungi kesalehan dirinya dan masyarkatnya...

Ketika pengusung kebatilan menggunakan berbagai kekuatan untuk memaksakan kebatilannya. Kesalehan individu kan sulit membendungnya..

Karenanya, dalam Alquran, selain perintah utk bertakwa, kita juga diperinntahkan merapihkan barisan dan mempersiapkan kekuatan....

Kadang kelemahan org saleh thd kemungkaran dibungkus alibi; rendah hati, tdk ingin mengusik org lain, khawatir fitnah, akhlakulkarimah, dll.

Di sisi lain, org2 saleh yg berupaya membangun kekuatan dituduh; Islam politik, garis keras, hizbi, dll...

Sikap thd org baik2 yg tergelincir berbuat maksiat, jelas berbeda dengan org yg terang2an bermaksiat dan mengusungnya....

Menghadapi kesalahan promotor dan provokator kemungkaran sama dg sikap thd org2 baik yg tergelincir salah, adalah bentuk kelemahan org saleh.

Terhadap orang kafir, saat Rasulullah berikan amnesti pada peristiwa Fathu Mekah, ada org2 yg tetap dihukum mati. Krn posisi mrk berbeda.

*https://twitter.com/abdullahhaidir1

Kota Depok, Eksportir Ikan Hias Lima Besar Dunia

Depok –  Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Depok bisa berbangga hati, karena diakui Singapura yang mengimpor Ikan hias para budidaya ikan hias yang terpusat di Kecamatan Sawangan dan Bojongsari. Bukan hanya sekedar kuantitas tapi juga kualitasnya dianggap importir Singapura sebagai yang terbaik di dunia. Salah satu ekspor andalannya adalah ikan hias Neon Tetra. Ikan ini memiliki kualitas yang mampu mengalahkan produk dari negara lainnya di mancanegara ini. Demikian rangkuman keterangan yang diperoleh NERACA dari berbagai sumber.

Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian Kota Depok, Ir Hj Ita Wilda, pembudidayaan ikan hias yang dilakukan para Kelompok Tani tersebar di seluruh kecamatan. Namun, konsentrasinya terpusat di Sawangan dan Bojongsari. “Jenisnya juga beragam bukan hanya ikan hias Neon Tetra. Tapi, juga ada Ikan Arwana dan lainnya. Semua ikan itu dibudidayakan petani ikan hias dengan kelompok taninya,” tuturnya yang menjelaskan bahwa jumlahnya mencapai ratusan orang dengan puluhan kelompok.

Dijelaskanya, berbagai jenis ikan hias itu diekspor ke beberapa negara Asean bahkan juga negara lainnya di Eropa. Tetapi, yang terbesar adalah ke negera Singapura. Para Petani membudidayakannnya kemudian dikumpulkan oleh salah seorang “Pengepul” yang juga adalah Pembina Kelompok Tani Dinas Pertanian, Saimin. Selanjutnya  Saimin menjualnya ke Eksportir yang hanya satu0satunya di Kota Depok ini sebagai ekportir Ikan Hias.

Sementera itu, menurut Ketua Pokdakan (Kelompok Budidaya Ikan), Ahmad Saidi, saat  memaparkan ekspose keberadaaanya, bahwa Pokdakan ini berdiri sejak 7 Februari 2012 lalu, dengan fokus budidaya ikan Neon Tetra, Cardinal, Rednos dan Manfis. “Saat ini, kami memiliki 20 anggota dengan 16540 aquarium dan 18 tenaga kerja. Rata-rata produksi kami untuk ikan hias neon tetra adalah 600.000 ekor/bulan,” ujarnya menegaskan.

Kemudian, lanjutnya, untuk paket teknologi, kami telah melakukan perkawinan silang jenis ikan manfish. Untuk sosial ekonomi masyarakat, kami telah menyerap tenaga kerja, memberikan sumbangan, dan berkontribusi untuk pembangunan Kota Depok. “Bukan hanya membantu pembangunan infrastruktur kebutuhan perbaikan jalan, tapi juga berbagai kebutuhan masyarakat lainnya dalam hal pemberdayaan ekonomi juga kami lakukan untuk meningkatkan daya belinya dan terlepas dari pengangguran dan kemiskinan,” ujar Ahmad Saidi menambahkan.

Sedangkan Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Depok, Ir. Abdul Haris MSc saat bersama Wakil Walikota Depok H. M Idris Abdul Shomad, dalam penilaian Pokdakan Tingkat Provinsi di Pokdakan Mutiara Tetra, Kelurahan Pondok Petir, Kecamatan Bojongsari, sangat mengapresiasi keberadaannya yang memiliki tingkat produktivitas yang sangat tinggi dan mampu bersaing di pasar dunia.”Kami pemerintah Kota Depok juga berterimakasih atas dipilih Pkkdakan yang ada di Kota Depok ini untuk bisa ikut dalam lomba dan dinilai prestasinya,” tuturnya.

Sementera itu, keterangan yang diperoleh NERACA dari Tim Penilai Provinsi Jawa Barat, yang diketuai Tatang Sulaiman. Menilai bahwa secara makro, kelompok budidaya ikan ini telah masuk dalam misi Kota Depok, yaitu mewujudkan kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal. “Potensi ikan hias di Kota Depok cukup bagus, karena dapat memproduksi kurang lebih 80 juta ekor/tahun dan hasilnya telah banyak dieksport keluar negeri,” Tatang Sulaiman berpendapat.

Bahkan, ditegaskan Tim penilai bahwa ikan yang banyak dicari menurut Ketua Pokdakannya adalah ikan neon, sehingga mereka sering kehabisan stock untuk kepentingan local maupun pesanan luar negeri. Kondisi ini, dikarenakan produknya memang berkualitas dan memiliki daya saing yang kuat dengan konsumen yang butuh ikan hias dari Depok ini, khususnya ikan Neon Tetra.

Dari berbagai sumber yang diperoleh NERACA, potensi seperti ini merupakan bagian dari kegiatan wirausaha dari kelompok UMKM yang bisa terus dikembangkan. Apalagi adanya pemberlakukan pasar bebas ASEAN mulai 1 Januari 2015, dapat memberikan laju perkembangan perekonomian Kota Depok yang lebih maju dan sejahtera. Beberapa maslah yang masih menjadi hambatan adalah dibidang marketingnya. “Untuk itu, kita harus terus mendorong dan memfasilitasi agar pemasarannya berjalan lancar, diantara melalui pameran UMKM ikan hias baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Hal ini bisa sebagai sarana pemasaran potensi budidaya ikan kota Depok,” tutur Ita Wildan berharap meyakinkan.

Selain itu, dikemukakan juga perlu terus dikembangkan berbagai kiat produksi dan penggunaan teknologi, sehingga roda perekonomian Kota Depok semakin cepat bergerat memajukan dan mensejahterakan masyarakatnya. “Kami sebagai pelayan masyarakat juga terus mencari masukan dan saran dari berbagai sumber termasuk dari tim provinsi saat memberikan feedbacknya usai menilai, memberikan banyak masukan berharga untuk peningkatkan ke depan yang lebih baik lagi.jangan pernah merasa galau tentang perkembangan ekonomi, teruslah berusaha dan bekerja untuk wujudkan perekonomian rakyat di Kota Depok ini,” pesan Wakil Walikota Depok kepada kelompok budidaya ikan hias memotivasi agar terus optimis.

*sumber: neraca

Survei: 68% Rakyat Mesir Inginkan Presiden Mursi Kembali

KAIRO - Tindakan kudeta militer terhadap Presiden Mesir, Muhammad Mursi tidak mendapat respon positif dari rakyat Mesir, justru sebaliknya rakyat Mesir menginginkan Presiden yang hafal Al Quran itu kembali memimpin negeri piramida tersebut.

Dalam sebuah survey yang dilakukan Pusat Studi Media dan Opini Publik “Takamul Misr” menunjukkan hasil bahwa 68% rakyat Mesir menginginkan Presiden Mursi kembali menjadi presiden. Sedangkan yang mendukung pelengserannya hanya 18%.

Survey ini dilakukan pada tanggal 23 November yang lalu, melalui studi lapangan, dengan tingkat ketepatan 95%.

Survey ini menunjukkan bahwa jumlah pendukung Presiden Mursi bisa dikatakan stabil, yaitu 68%. Sedangkan jumlah pendukung kudeta mengalami penurunan yang tajam hingga 28% sehingga menjadi 18% saja. Ada juga kelompok yang menentang kudeta dan juga menentang Presiden Mursi dengan prosentase 12% saja.

Takamul juga melakukan studi lapangan di Bundaran Tahrir dan sekitarnya. Hasilnya, tidak benar klaim bahwa jumlah demonstran yang mendukung turunnya Presiden Mursi pada tanggal 30 Juni yang lalu mencapai 33 juta orang. Demonstrasi yang hanya berlangsung selama 6 jam itu hanya diikuti oleh 5.5 juta orang saja. Sedangkan jumlah para pendukung Presiden Mursi, di Kairo dan provinsi-provinsi lainnya selama berbula-bulan  mencapai jumlah jumlah 26 juta orang. (dakwatuna/islamedia)

Ini Tiga Kandidat Terkuat Capres 2014 dari PKS

Jakarta - Berdasarkan hasil Pemilihan raya (Pemira) yang digelar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memunculkan tiga nama kuat untuk diusung sebagai calon presiden (Capres) di Pilpres 2014.

Mereka adalah, Presiden PKS Anis Matta, Anggota Majelis Syuro PKS Hidayat Nurwahid dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher).

Anggota Majelis Syuro DPP PKS Hidayat Nur Wahid mengatakan, Pemira ini merupakan salah satu kontribusi PKS untuk meningkatkan semangat berdemokrasi, khususnya di internal Partai. Kader parpol diberi hak dan kebebasan untuk memilih capresnya.

"Secara prinsip Pemira sebagai kontribusi PKS untuk meningkatkan demokrasi di Indonesia, karena Pemira itu ditentukan kader dalam menetapkan capres. Ini bukan hanya elitnya, ini cara baru. Beda dengan partai lain, PKS memberikan para kader untuk memilih pemimpin mereka," kata Hidayat, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (3/12/2013).

Nantinya, kata Hidayat, hasil Pemira itu akan diputuskan oleh Majelis Syuro PKS sebagai penentu Capres 2014.

"Ini cara baru yang tidak dimiliki partai lain. Nanti akan diumumkan DPP dan diserahkan kepada Majelis Syuro. Saya berharap nanti yang menang dari generasi yang lebih muda yang bisa melanjutkan kontribusi," kata Hidayat.

Sedikitnya tiga nama yang mencuat dalam hasi Pemira itu, kata Hidayat, akan diputuskan berdasarkan hasil pemilihan legislatif (Pileg).

"Itu harus merujuk pada hasil Pileg nanti. Karena ini kan beda gubernur dan walkot. Tergantung Presiden Treshold. Kita harus melihat Pileg nanti," jelasnya.

Seperti diketahui, Pemira serentak dilakukan terhadap warga PKS se-Indonesia, pada Sabtu, (30/11/2013) kemarin. Pemira yang digelar di Jakarta sendiri, mendapat sambutan yang antusiasme dari warga PKS Jakarta.

Hal itu dibuktikan dari partisipasi warga PKS yang mengikuti Pemira sebesar sebesar 87 persen, atau hampir 100 persen dari total pemilih, yakni sebanyak 7.521 orang yang ditersebar di 23 TPS di Jakarta. Dari penghitungan Pemira, suara yang sah berjumlah 6.496 suara.

Sementara, perolehan suara lima besar di Jakarta, yakni Anis Matta dengan 87.7 persen suara, kemudian Hidayat Nurwahid 83.4 persen suara, ketiga Ahmad Heryawan dengan 72.4 persen suara. Disusul urutan ke empat, Tifatul Sembiring dengan 38.4 persen suara, terakhir Nurmahmudi Ismail dengan 26.5 persen suara.[jat/inilah]
sumber:pkspiyungan

Selasa, 05 Maret 2013

Membaca Peta Politik Pilgub Sumut


Pilkada Sumut semakin dekat. Tanggal 7 Maret nanti seluruh warga Sumatera Utara akan menentukan pilihannya, menentukan siapa yang memimpin dan dapat menjadi penggerak perubahan nasib mereka menjadi lebih baik. Sebagai pesta demokrasi rakyat, maka suasana gegap gempita dalam hiruk pikuk pilkada ini memang seru. Meski masa kampanye sudah berakhir kemarin, namun di dunia, di jejaring sosial seruan untuk memilih calon tertentu adalah hal yang tak bisa terhindarkan.

Kini, di masa tenang ini, mari kita ulas bagaimana peluang para calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur ini di bilik suara nanti. Untuk sementara ini, kalau kita melihat survei yang dilakukan berbagai lembaga hampir bisa dipastikan Pilkada Sumut akan berlangsung hanya satu putaran dengan pasangan Gatot-Tengku Erry sebagai pemenangnya.

Mungkin akan ada yang kritik, “Itu mah lembaga suvey ngga independen. Itu pasti lembaga punya PKS, kerjaan kader PKS, makanya calon PKS menang menurut mereka.” Eit, kalau maksudnya adalah lembaga Media Survey Nasional pimpinan Rico Marbun yang memang dekat dengan PKS bolehlah kita berprasangka buruk bahwa ada maksud propaganda di baliknya. Tapi kali ini ternyata lembaga survey lainnya juga menunjukkan hasil yang sama: pasangan nomor lima akan jadi juara.

Salah satunya adalah survei Pusat Kebijakan Pembangunan Strategis (Puskaptis) dan Indo Matrik yang menyatakan Gatot-Tengku Erry adalah pasangan dengan popularitas dan elektabilitas tertinggi. Ini tercermin dari hasil dua kali survei yang dilakukan pada periode 18-22 Februari dan 25-28 Februari lalu. Gatot-Tengku Erry di urutan pertama, 33,49% disusul Gus Irawan-Soekirman dengan 26,28%. Sisanya dibagi-bagi kepada calon lain Amri Tambunan-RE Nainggolan (11,85%), Chairuman Harahap-Fadly Nurzal (7,8%) dan Effendi Simbolon-Jumiran Abdi (7,4%).

Nah, memang sih itu masih survei. Dalam waktu satu hari saja, bahkan satu menit saja peta dukungan masih sangat mungkin berubah. Apalagi mengingat banyaknya massa mengambang (swing voters). Apalagi jika manuver politik uang masih ada yang coba-coba melakukan. Entah itu namanya serangan fajar atau apalah. Tapi setidaknya hasil riset ini bisa menjadi salah satu ukuran sementara tentang siapa yang lebih punya kans memimpin 12 juta lebih warga Sumatera Utara.

Sekarang mari kita kulik satu-per satu cagub-cawagub sumut ini. Pertama, pasangan Gus Irawan Pasaribu dan Soekirman. Diusung oleh PAN, Gerindra, PKB dan sejumlah partai gurem. Jualannya adalah Sumut Sejahtera. Ceritanya ke berbagai kampanye adalah perubahan. Janjinya adalah memberikan kredit sebanyak-banyaknya pada masyarakat. Waktu debat kandidat di Metro TV, Gus malah ingin membawa budaya korporasi ke dalam birokrasi. Namun, belakangan kasus dugaan korupsi di Bank Sumut yang pernah dipimpinnya tampak membuat goyah para calon pemilih.

Kedua, pasangan Effendi Simbolon-Jumiran Abdi. Dicalonkan oleh PDIP, PDS dan PPRN. Beliau ini mau tidak mau harus disebut underdog. Tidak ada harapan. Meskipun Jokowi turun menjadi juru kampanyenya, walaupun iklannya bawa-bawa senyum Jokowi, saya yakin tidak akan ada efeknya. Apalagi memang dikarenakan pencalonannya sendiripun bertentangan dengan konstitusi PDIP. Pernah pula ia mengkritik Dahlan Iskan secara lebay. Yang paling parah, dia yang meskipun bermarga Simbolon ini, lahir di Banjarmasin, besar di Jakarta dan menjadi anggota parlemen Dapil Jakarta, namun terlalu sok tahu soal adat Batak dan merasa sok paling Medan. Hingga puncaknya, Effendi mempermalukan PDIP karena mengatakan bahwa Bagansiapi-api adalah bagian dari provinsi Sumatera Utara. Kelihatan sekali kalau beliau tidak paham Sumut. Gimana mau paham, peta geografisnya saja tidak tahu?

Ketiga, pasangan Chairuman Harahap-Fadly Nurzal. Dicalonkan oleh Golkar, PPP, PPPI dan Partai RepublikaN. Tema utama mereka “membangun dari desa”. Janji manisnya adalah bagi-bagi duit 1 milyar rupiah untuk 1 desa. Terang saja orang yang cerdas akan menyadari bahwa ini hanya sekedar janji muluk-muluk. Jumlah desa dan kelurahan di Sumut mencapai 5.828 berdasarkan data BPS tahun 2011. Untuk merealisasikan janjinya saja sudah habis hampir 6 trilyun, sementara APBD Sumut hanya 8,1 trilyun. Lantas dari mana lagi dana untuk pembangunan infrastuktur, pendidikan, kesehatan, gaji PNS dan lainnya?

Wakilnya Fadly Nurzal, Ketua DPW PPP Sumut yang juga mantan aktivis HMI juga seperti menelan ludah sendiri. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Kejaksaan Tinggi Sumut ketika dijabat Chairuman adalah sasaran demo semua gerakan mahasiswa karena dianggap melindungi berbagai tersangka korupsi. Kini orang akan membaca, “Aktivis HMI menggadaikan idealisme untuk kekuasaan.” Lebih ekstrim lagi yang ngomong begini, “Jika terpilih, akankah Fadly menjadi Anas selanjutnya?”.

Keempat, duet Amri Tambunan- RE Nainggolan. Keduanya diusung Partai Demokrat. Keduanya juga merupakan birokrat senior. Amri masih memimpin Deli Serdang, sedangkan RE pernah menjabat bupati Tapanuli Utara dan kini sebagai Sekda Sumut. Namun karena diusung PD, rasanya mereka menjadi mengecil peluangnya. Sebabnya tentu karena badai yang sedang menghantam internal PD. Setelah Nazaruddin dan Angelina Sondakh, kini Andi Malarangeng dan Anas Urbaningrum juga sudah dijadikan tersangka oleh KPK. Parahnya, perahu Demokrat retak. Konflik besar melanda bahtera rumah tangganya. Wajar saja kalau nilai jual pasangan ini turun.

Kelima, pasangan Gatot Pujo Nugroho dan Tengku Erry Nuradi. Pasangan yang disingkat GANTENG ini diusung oleh PKS, Hanura, PBR, PKNU dan Partai Patriot juga didukung Partai Nasdem. Secara umum, track record mereka bersih. Mereka pun memang dikenal berkarakter ramah dan bersahaja. Visi besarnya adalah Merakyat, Membangun dan Melayani. Tak bisa dipungkiri kepemimpinan Gatot selama menjadi Plt. Gubernur dirasa membawa banyak perubahan. Kalau kemudian ada PNS dan pengusaha yang tak suka, bisa jadi karena “gawean haram” mereka selama ini menjadi sulit.

Belakangan, Gatot di-black campaign dengan isu tukang kawin. Katanya, Gatot punya istri simpanan di Jakarta. Tapi dia tenang saja. Toh, tetangganya dan rakyat Sumatera Utara tahu kalau dia nyaris setiap hari menyapa rakyat Sumatera Utara, jauh sebelum kontestasi Pilkada digelar. Paling banter, sekarang lawan politiknya ingin menjatuhkannya dengan kasus dugaan korupsi impor daging yang melibatkan mantan presiden PKS, LHI. Tentu saja ini usaha sia-sia karena masyarakat yang cerdas tak mudah diprovokasi. Masyarakat juga lebih melihat tokoh, bukan partai. Sehingga di Jawa Barat, calon PKS Ahmad Heryawan kembali memenangkan Pilkada.

Selain, analisis soal partai pendukung dan track record, hitung-hitungan peluang cagub-cawagub di Pilkada Sumut sangat ditentukan oleh faktor etnisitas dan keagamaan. Memang betul, Sumatera Utara sangat majemuk dan heterogen. Dalam sejarahnya juga nyaris tak pernah ada konflik berlatas SARA di provinsi ini. Namun soal pilihan, nyatanya sentimen suku dan agama tetap mempengaruhi para pemilih.

Namun bukan berarti menyiapkan pasangan “Pelangi” bisa menjadi solusi. Kenyataannya banyak pimpinan daerah tak harus kombinasi pasangan Islam-Kristen. Buktinya dulu Syamsul-Gatot secara suku adalah Melayu-Jawa dan secara agama Islam-Islam, bahkan diusung partai Islam PKS dan PPP, tapi bisa menang.

Perlu diketahui, meski sterotipnya di level nasional bahwa Sumut adalah Batak dan Kristen, namun realitasnya penduduk aslinya (khususnya Medan dan pesisir) adalah Melayu dan mayoritasnya adalah Jawa. Meski begitu, faktor Batak dan Kristen tetaplah memegang saham besar. Sayangnya, Pilkada kali ini kebanjiran Batak. Calon nomor 1,2,3 dan 4 punya tokoh Batak. Kalau dibagi rata, kans menang calon Batak akan menjadi kecil. Suara umat Kristen juga akan diperebutkan oleh Effendi Simbolon dan RE Nainggolan. Sebenarnya, RE lebih potensial untuk didukung, tapi karena posisinya sebagai wakil, maka wajar bila ada umat Kristen yang ragu memilihnya. Selain itu, ternyata tak sedikit pula tokoh rohaniawan Kristen yang justru mendukung Cagub Islam, Gatot-Tengku Erry.

Yang menarik memang pasangan Ganteng yang Jawa-Melayu dan Islam-Islam. Kalau suara masyarakat Jawa dan Melayu bersatu padu mendukung mereka, totalnya sudah 40%, sudah pasti menang. Namun suara wong Jowo juga akan diperebutkan oleh Soekirman (1) dan Djumiran Abdi (2). Sedangkan calon Melayu memang hanya Tengku Erry Nuradi, sehingga bisa disimpulkan jika sentimen suku ini diikuti, maka penduduk Melayu Sumut akan solid memilih nomor 5.

Tentu saja, semua ini masih debatable, karena bagi pemilih yang cerdas kompetensi dan kapabilitas akan lebih dicermati ketimbang faktor emosional seperti suku dan agama. Di samping, melacak rekam jejak para pejabat, Debat Kandidat bisa dijadikan cara untuk mengukur kualifikasi seorang calon. Seperti dalam Debat terakhir yang disiarkan Metro TV, terlihat sekali banyak calon yang tak bisa menunjukkan kesantunan politik dan sikap negarawan. Ajang yang seharusnya dimanfaatkan untuk bicara program dan visi-misi, dipakai untuk menyerang dan menjatuhkan lawan, yang sebagiannya malah menggunakan data tidak valid.

Jujur, saya harus angkat jempol pada Amri-RE dan Gatot-Tengku Erry yang tampil santun, tanpa pretensi mendiskreditkan lawan. Pengalaman mereka sebagai birokrat memang telah mengajarkan bagaimana untuk bijak bersikap. Malahan, Gatot yang selalu diserang oleh Gus, Soekirman, Effendi, Djumiran, Chairuman dan Fadly dengan ledekan sapi impor, bahkan dicecar tanpa memberi waktu di saat dia harus bicara oleh Fadly Nurzal hingga habis masa, malah dibalasnya dengan cipika-cipiki yang membuat banyak orang semakin simpati. Pasca debat, imbang Gatot diprediksi hanyalah Gus Irawan.

Begitupun, semua orang punya kebebasan memilih. Yang terpenting jangan sampai jumlah golput meningkat lagi. Saya optimis warga Sumatera Utara sudah semakin arif dan dewasa untuk tidak tergiur pada sekedar uang lima puluh ribu dan sekilo beras. Saya yakin sikap ini pula yang akan membuat pemimpin terbaiklah yang akan dipercaya untuk mengemban amanah. Semoga.